Tuesday, June 9, 2020

Untukmu, Sang Peneliti Bukunya Djenar






Sore itu, memang kita berbincang seperti biasa. Penuh tanya dan rasa ingin tau yang tinggi. aku suka ketika kamu banyak melontarkan beberapa pertanyaan.

Kata kamu, “tenang aja penuliskan bisa ngembangin kalimat jadi paragraf.”
Terus kalau pertanyaanya bukan kesitu gimana?
“ya jawab aja dari teman dikenalkan, udah sedikit mengenal, dan kuliah sambil kerja.”
“Jawabku “kamu lucu, simple sekali jawabannya”

 Terus berlanjut sampai pada pertanyaan inti

“Jadi bagaimana?”
“Rhaaa.. aku udah dua kali melontarkan pertanyaan yang sama ketiga kali tidak lagi kamu respon aku pilih mundur saja. Cepet lambat itu ukuran manusia. Aku bukan orang yang sering memaksa orang lain untuk suka.”

Arghhhh... kenapa kata terakhir itu slalu terngiang padahal aku paham maksud kamu. Seharusnya aku jawab iya harusnya kita berbincang lebih lama, iya aku mau kita temu kemudian bersua, iya hapus saja akun itu kita pindah ke akun ini saja. Iya aku mau pergi makan disana. Meskipun sesaat, itu akan menimbun utuh rasa penasaranku.

Gadis kecil yang baru kamu kenal, kini masih melanjutkan dan berproses menyelesaikan tugas akhirnya hingga tuntas.

Percayalah, sekeras-kerasnya egoku, aku akan ringkih dihadapan-Nya, Jiwa yang mudah luluh dan berterus terang akan keinginan pada-Nya. Baik-baik disana. Dariku untukmu, dalam semogaku seharusnya kita bisa lebih lama bercerita.



Dari yang menuliskanmu,
Farha, Pelukis Rindu


Bandung, 2020


Kita yang Sedang Berproses




Uswah Farha & Saranis

Tidak ada proses yang sulit untuk diwujudkan,
Kitalah yang terlalu mudah menyerah
Tidak ada proses yang sulit untuk dilalui
Kitalah yang terlalu cepat mengeluh
Tidak ada proses yang sulit untuk dicapai
Kitalah yang terlalu banyak rebahan

Aku, kamu, dan mereka yang sedang berproses
Kita sama-sama sedang menikmati masa
Masa dimana kita harus berjuang
Masa dimana kita harus memilih
Masa dimana kita harus bisa menerima
Dan terkadang kita harus menghargai apa yang ada
sebelum apa yang ada itu pergi



Monday, June 8, 2020

Datang dan Pergi Semaunya!





Ini hati apa terminal?
Ini hati apa stasiun?
Ini hati apa bandara?
Ini hati apa dermaga?

Sini, duduk sebentar biar paham

Cukup! Aku sudah bosan
Hanya butuh kesadaran
Dari sebuah perjuangan
Ternyata butuh keseriusan
Dan bukan hanya keberadaan

Kamu datang, aku persilahkan.
Kamu pergi, aku ikhlaskan.
Kamu suka, tolong ungkapkan.
Kamu tidak suka, tolong hentikan.

Singkatnya, halalkan atau tinggalkan!
Jangan buat peduliku berubah menjadi kata terserah.

Hayoh loh… bingung tuh memahami seorang perempuan hehehe.





Sunday, June 7, 2020

Ketika Aku Berbicara Tentang Cinta




Maka..
Iman yang akan ada disana
Sebesar apa imanmu?
Sebesar itu pula bentuk cintamu.
Seabadi apa iman dihatimu?
Seabadi itu juga bentuk cintamu.
Yang akan bersemayam untukku

Karena,
Cinta yang didasari iman
Tidak akan habis di makan usia

Melainkan,
Akan terus tumbuh
Hingga syurga yang menjadi atap untuk keduanya

Jadi..
Siapkah untuk menghadirkan iman
Di dalam cinta kita?











Bertemu & Berpisah, Kemudian Sejarah!






Pertemuan yang manis, diantara dua manusia
Penuh asa dan cita tuk hidup bersama
Saling melempar rasa
Saling melengkapi cinta

Namun,
Pasrah akan takdir ilahi
Perpisahan yang sepi, berpisah sepihak sendiri
Menjauh mandiri

Pergi.. tanpa kembali

Hanya konseptual sejarah yang tersisa, sesekali terlintas
Sejarah terkuak dalam ingat, tak melekat utuh dalam realitas

Terbatas.. nyata, tak bebas

Bernostalgia membuka memori, kamu sang sejarah hati.
Pertemuan adalah awal sejarah yang dimulai dengan perpisahan diri.





Saturday, September 21, 2019

BALADA RASA DI KOTA SANTRI



(Siti Nur Uswatun Hasanah)
Sitinuruswah47@gmail.com

“Neng asli dari mana?”
“Dari Bandung Bu.”
“Ohh jauh yaa.. kenapa gak kuliah yang di Bandung aja? Kan banyak universitas negeri disana.”
“(Dalam hati duh ini mungkin orang ke 999 yang bertanya kenapa kuliah di tasik kenapa gak di Bandung aja???) Hehe, iyaa udah rezekinya disini Bu, di Tasik.”
“Disini ya di UPI?”
“Iyaa Bu di UPI.”
Sebenarnya, sampai saat ini udah tingkat akhir dan sebentar lagi lulus, jangankan sering sekalipun tidak pernah nyesel ngerantau ke Tasikmalaya buat belajar. Satu-satunya yang saya tidak suka adalah karena waktu pulang yang semakin jarang untuk menemui Ayah dan Ibu. Cause I am too busy to grow up, until I am forget if they are also grow old.
Sebenarnya bukan tidak mampu, tidak ingin ataupun tidak sempat untuk pulang, tapi suatu hari di tanah kelahiran Ayah berpesan “Kamu sudah mahasiswa, sudah waktunya belajar mandiri, kalo kegiatan kampus belum tuntas jangan ngerengek ingin pulang, belajar yang serius disana. Jarak Tasik-Bandung teh bukan Soreang-Banjaran. Kitu saur Ayah teh. Hmm Soreang-Banjaran? Kalo kurang tahu, temen-temen bisa searching di mbah Google dimana itu Soreang-Banjaran Hehe. Maka dari itu, saya pikir cara untuk jarang pulang adalah cara untuk bisa mandiri dan beradaptasi untuk jauh dari kampung halaman.
Berkat saran dan pesan orang tua saya terus belajar dan semangat untuk berprestasi serta menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawab baik itu tugas akademik ataupun tugas organisasi. Ketika waktu liburan tiba orang lain bersantai ria berbeda dengan saya yang aktif mengikuti informasi mengenai ajang pemilihan mahasiswa berprestasi UPI Tasikmalaya. Karena, awal menjadi mahasiswa saya termotivasi dan ingin sekali mengikuti ajang tersebut. Sampai akhirnya tahap demi tahap saya lalui dari mulai pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat prodi PGPAUD alhamdullilah dengan meraih juara 1. Kemudian, ke tahap tingkat kampus alhamdullilah meraih juara 3. Itulah pengalaman menarik yang dapat saya ceritakan pada keluarga dan akan slalu terkenang. Meskipun saat ini saya belum bisa memberi mereka secara materi setidaknya saya memberi kabar dan hal gembira serta membanggakan untuk mereka Ayah dan Ibu. itulah yang menjadi prinsip saya saat ini.
Hmmm.. mengenai Kota Tasikmalaya beserta isinya, siang harinya tidak terlalu panas, malam harinya yang romantis oleh lampu-lampu, ada AP dan MP, Jalan KHZ Musthafa yang tersohor, Tugu Asmaul Husna, Tugu Adipura serta monument lainnya yang indah dan gagah, Gedung Kota Tasikmalaya disingkat GKT tempat para seniman memamerkan karyanya, Car Free Day Tasikmalaya yang ramai, Festival Kota Tasikmalaya yang menggembirakan, Gunung Galunggung anu tiis nan romantis, Nasi Tutug Oncom disingkat Nasi TO disetiap sudut Kota terkhusus Nasi TO Benhil depan kampus tercinta UPI Tasikmalaya yang tidak pernah sepi pengunjung, pondok pesantren tempatnya para ukhti dan akhi, bincang-bincang khasnya orang Tasikmalaya dengan kata “Caliweura”, alun-alun Kota Tasikmalaya dan Lapang Dadaha tempat berkumpulnya para pemuda. Untuk mengemukakan pendapat disertai kegigihan dan keberaniannya dengan menyingsingkan jaket almamater, tempat bertemu dengan banyak orang-orang yang membuka mata dan pikiran saya, dan sampai sekarang membuat saya mencintai Kota Priangan timur ini. Yaaa selain Kota kembang (Bandung) kota kelahiran sendiri tetap Bandung juga juara hihi.
Meskipun begitu, kemanapun langkah kaki ini berjalan, kepada rumahlah aku berlabuh. Meski tidak jauh tanah rantaumu, tak mengapa. Bepergianlah. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China begitulah sabda Rosullullah SAW terhadap umatnya sebagaimana menuntut ilmu itu wajib untuk setiap muslim. Kau juga akan tahu bahwa meme-meme anak kos dan mahasiswa ternyata benar-benar ada ketika kalian merantau meninggalkan kampung halaman untuk berdikari dan belajar. Setidaknya, meskipun kamu tidak bisa menulis untuk dibagikan ke orang banyak, kamu masih bisa membagikan tulisanmu ke orang-tercinta, atau mungkin kamu bisa membagikan tulisanmu ke anak-anakmu kelak dan bilang “Dulu Ayah nongkrong berjam-jam di KFC tapi cuma beli mocca float doang biar dapat WIFI dan bisa ngerjain tugas kuliah”. Atau “Ibu dulu puasa diakhir bulan gara-gara gak punya uang”. Atau “Ibu dulu dikosan cuma ada uang Rp 13.000 ribu, waktu itu Ibu gak berani bilang ke orang tua, karena malu harus minta terussss… ehh emang feeling atau ikatan batin orang tua dan anak itu kuat nak, gak nyangka pas besoknya orang tua Ibu mentransfer uang ke rekening. Se-misal seperti itu.
Hampir 4 tahun sudah, saya tinggal dan menuntut ilmu di Kota santri ini. Berkat do’a dan restu kedua orang tua terutama Ibu. Dia tidak pernah lelah mendo’akan anak tunggalnya untuk terus berdikari dan mengejar mimpinya. Karena keberhasilan dan kesuksesan saya hari ini 60% berkat do’a Ibu yang tak pernah henti. Do’a ibu itu seperi do’a para nabi terhadap umatnya, karena langsung Allah SWT perkenankan do’a itu. Masya Allah.. dan tentu jika nanti sudah tidak tinggal lagi disini, saya akan merindukan hal-hal yang hanya ada di Kota resik ini. Jadi, selagi saya masih menikmati suka duka belajar yang meski jauh dari orang tua, I can do that! Karena suatu hari nanti, saya akan bilang pada anak saya, “Ibu dulu kuliah di Tasikmalaya. Apa kamu mau kuliah disana juga?






Tuesday, April 9, 2019

Terimakasih sudah menilai!




Penilaian kamu..
Baik dan buruk
Benar dan salah

Hari demi hari terus berganti, suasana hatipun terus berubah ada kala senang, sedih, kecewa, dan menangis. siapa peduli dengan suasana hati selain diri ini. banyak kenangan, kisah, cerita yang ku simpan rapih bersama hati. mungkin aku sebut kisah perjalanan kasih yang dulu sempat mekar indah seperti bunga hingga banyak di hinggapi kupu-kupu warna-warni dan kumbang-kumbang cantik. namun, saat ini bunga yang indah itu layu kecoklatan sedikit keindahan yang ku rasa. arghh apa yang harus aku perbuat? untuk bisa mengembalikan bunga yang indah itu langkah demi langkah tahap demi tahap. mungkin.

Karena.. dibalik itu semua Allah mengajarkanku untuk belajar sabar dan rela. intinya segala sesuatu bisa terjadi tanpa harus diminta, mengubah rencana dalam sekejap mata.

Kamu tau? sebuah bunga yang indah mekar itu sampai sekarang masih mendiami hati dan slalu memberi motivasi, hanya saja kondisinya tidak begitu stabil. perlu proses untuk kembali. hari demi hari selalu ada kisah dan kasih, ada rasa dan cinta, ada rindu dan sendu, hingga ada kamu dan sayang. perasaan itu terus berkembang tapi tanpa arah dan tujuan yang pasti. ya sudahlah itu bukan sebuah masalah. karena aku tidak ingin menjadi sebuah beban untukmu dan aku bukanlah beban untukmu. karena, yang ku simpan adalah sebuah ketulusan.

........

Sebuah pesan singkatku baca, manis sekali penuh perhatian dan begitu hangat. aku merasakan ada rasa kasih dan sayang begitu besar. sedikit mata ini berkaca-kaca melihatnya. sungguh indah perhatiannya.


Namun, saat itu, aku mulai merasa sesuatu mengarahkanku bahwa apalah arti diriku? hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan tapi satu visi yang terus menggaung bahwa diri ini harus terus berbuat kebaikan.

Sebuah penilaian telah tersusun kata demi kata dan membuatku berpikir, ini hanyalah sebuah kesalah pahaman. sejenak diri ini merenungkan sebuah kisah membuka kembali ceita kasih ternyata ini memang sebuah kesalah pahaman. tapi diri ini yakin insya Allah suatu hari akan ada titik terang hingga memperbaiki sebuah persoalan yang aku pahami.

Terimakasih.. kamu, dia, dan mereka sudah menilai diri ini. satu kalimat yang perlu di garis bawahi "Tolong Jangan salah menilai' 

Memang "Seribu kebaikan akan mudah dilupakan dengan satu kesalahan" tapi itulah hukum kehidupan. atau karena, "Semut diujung lautan tampak, tapi gajah dipelupuk mata tiada tampak. entahlah..


Tasikmalaya, 04 April 2019 


Friday, January 11, 2019

[ESSAY EDCONEX] PEMUDA BERKARAKTER SEBAGAI KUNCI MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN BANGSA


Siti Nur Uswatun Hasanah-1607807
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya



Dewasa ini hampir setiap hari didapati berita mengenaskan di media massa, baik melalui media elektronik (televisi, radio, atau internet) maupun media cetak (koran, tabloid, majalah, dan lain-lain). Hampir setiap hari berita tentang tindak kekerasan, kejahatan seksual, korupsi, maupun penyalahgunaan narkotika disuguhkan oleh media massa. Banyak sekali berita mengenaskan yang disuguhkan seperti pejabat terlibat korupsi, tawuran antar warga, tawuran antar pelajar, tawuran antar supporter olah raga, tawuran antar sesama penonton pertunjukkan musik, remaja terlibat narkoba, nyontek pada saat ujian nasional, dan lain-lain. Fenomena ini sungguh sangat mengenaskan, seakan berada dalam kehidupan zaman primitif yang masih jauh dari masyarakat yang berperadaban. Apakah ini merupakan hasil dari proses kualitas pendidikan bangsa selama ini?
Potret buram kondisi pemuda saat ini nampak jelas di depan kita. Berbagai masalah yang mereka anggap sudah lumrah dan biasa terjadi di kalangan pemuda, Mereka berlomba- lomba berkiblat pada dunia barat dan menikmati arus negatif modernisasi. Melakukan hal yang menyimpang seperti itu mereka anggap sudah biasa. Miris sekali ketika melihat kaum muda indonesia. Masalah urgent terebut perlu diatasi saat ini juga, dengan meningkatkan mutu pendidikan bangsa untuk masyarakat oleh kaum muda indonesia yang berkarakter unggul dan mempunyai intelektual dalam menanggapi hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan.
Secara fitrah, masa muda bukanlah masa dimana harus bersenang-senang dengan arus negatif modernisasi saat ini. Tetapi, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan yang bermutu dan berdaya saing tinggi untuk masyarakat. sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda, dan pemikiran kritis mereka sangat didambakan masyarakat. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda sekarang ini. Jika pemuda indonesia di era sekarang ini masih menyimpang dari nilai, norma dan agama bagaimana akan memajukan pendidikan bangsa. Lalu pertanyaannya sekarang, pemuda yang seperti apakah yang dapat meningkatkan mutu pendidikan bangsa?
Masih ingatkah apa yang dikatakan Bung Karno? Ya, “ Berikan aku sepuluh pemuda, aku sanggup  merubah dunia.” Pemuda memiliki peranan yang besar untuk melakukan suatu perubahan dan untuk menjaga harkat-martabat bangsa serta memajukan bangsa dan Negara. Peradaban  dan  kemajuan suatu  bangsa ditentukan oleh kualitas dan mentalitas pemudanya. Pemuda adalah agen perubahan sosial (agent of social change). karena pemuda selaku insan akademis, dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial dimasyarakat. konstribusi pemuda sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan.
Walaupun pada era sekarang ini arus globalisasi begitu pesat. Tidak menutup kemungkinan bahwa pemuda dapat memajukan sebuah bangsa selama pemuda itu berkarakter unggul sesuai dengan nilai-nilai luhur falsafah pancasila dan menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, dibangun dengan kualitas tinggi, mentalitas kuat, dan kejujuran yang melekat. Mampu memberikan warna baru dalam merubah perkembangan bangsa ini. Perubahan yang dilakukan oleh pemuda yang berkarakter bukan hanya dalam bidang pedidikan saja, namun di bidang lainnya juga seperti sosial, budaya, ekonomi dan politik kearah perubahan yang lebih baik.
Peran pemuda bangsa Indonesia sebenarnya sudah termaktub dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan dan pasal 16 tentang peran pemuda menjelaskan bahwa “Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan sosial”. Karena itu sesungguhnya generasi muda Indonesia dipandang sebagai suatu identitas yang berpotensial dalam membangun bangsa di masa depan. Jati diri pemuda sebagai kunci sukses memajukan pendidikan bangsa dan karakter pemuda menentukan karakter pendidikan bangsa. Selama tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak pemuda, selama pemuda sebagai motor penggerak bangsa, selama karakter pemuda masih terjaga, selama agent of social change yang masih melekat pada jati diri pemuda bukanlah sebatas slogan-slogan demonstrasi saja, dan selama pemuda masih tampil di garda terdepan dalam pembangunan bangsa, selama itu pula NKRI tetap jaya.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa permasalahan potret buram pemuda sekarang ini perlu diatasi dengan meningkatkan mutu pendidikan bangsa bukan hanya itu tapi peran serta tri pusat pendidikan dalam menjaga karakter pemuda indonesia agar menjadi agen perubahan yang berkualitas dengan karakter unggul dan intelektual yang cerdas merupakan dua tujuan utama dalam membangun pendidikan bangsa. dan selama pemuda masih di sebut agen perubahan sosial selama itu pula pemuda harus bergerak melakukan suatu perubahan yang dapat memajukan pendidikan bangsa karena. Rasulullah SAW. bersabda: “Ambillah kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati, dan senggang sebelum sibuk”. (HR. Al-Hakim dan Al Baihaqi). Jadi, selama pemuda sebagai kekuatan penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Mulailah memperbaiki keadaan pendidikan di indonesia dari lingkup kecil terlebih dahulu dengan karakter unggul, intelektual cerdas, dan mentalitas kuat.
Dan sesungguhnya keberhasilan gerakan pemuda dalam memajukan bangsa sudah ada sejak dahulu kala. Ketika teks sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan oleh para pejuang pemuda. Yang mempunyai karakter jiwa nasionalisme cinta tanah air dan daya kredibilitas yang sangat tinggi pada waktu itu. Kemudian mereka bersatu padu demi memerdekakan bangsa Indonesia, dari kekejaman para penjajah. Karena saat itu mereka melihat sebuah ketidakadilan, ketidaksesuaian dari apa yang seharusnya dilakukan. Harapan bangsa pada waktu itu ada ditangan pemuda. Alhasil Peristiwa Sumpah Pemuda telah menunjukkan bukti nyata bahwa dengan karakter diri para pemuda sesuai dengan berdasarkan nilai-nilai falsafah pancasila. Dan keinginan kuat, mentalitas kuat serta kredibilitas yang tinggi mereka para pemuda telah berhasil mencapai cita-cita kemerdekaan. Maka untuk para generasi muda Indonesia dapat mengambil hikmah dari sejarah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Untuk bisa bergerak membangun pendidikan bangsa saat ini juga dengan karakter yang unggul, intelektual yang cerdas, mentalitas kuat, rasa nasionalisme yang tinggi, dan dengan nilai-nilai falsafah pancasila.


REFERENSI:

Lickona, T. (2015). Educating For Character, Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mulyana, R. (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: ALFABETA.

Mulyasana, D. (2012). Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rasyidin, W. dkk. (2014). Landasan Pendidikan. Bandung: Sub Koordinator MKDP Landasan Pendidikan.

Satries, S.I. (2009). Peran Serta Pemuda Dalam Pembangunan Masyarakat. Jurnal: Madani,

Supardi, U.S. (2012). Arah Pendidikan Indonesia Dalam Tataran Kebijakan Dan Implementasi. Jurnal: Formatif, 2 (2) hlm. 111-112.

Widiya Wiwid Ningtyas. (2014, 15 Februari). Peran Mahasiswa Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Kompas,



Monday, February 26, 2018

[Cerpen] KEJORA DAN BINTANG


KEJORA DAN BINTANG

Oleh : Siti Nur Uswatun Hasanah & Rindu Wangi Hujan

Ketika itu aku pulang dari sekolah yang tak jauh dari rumahku, seperti biasa aku diantarkan oleh paman becak. Kemudian aku membayar ongkos dan membukakan pagar rumah. Tiba-tiba dari belakang ada yang menarik tasku sangat kencang. tidak salah lagi aku berpikir pasti dia adikku kejora. Dengan wajah polosnya sembari tersenyum melihatku. Aku pun kesal menahan emosi seketika dia menarik gntunganku. tidak seharusnya dia menarik gantungan tasku yang masih baru dibelikan ayah dari Malaysia. Aku tidak tau kenapa kejora melakukan hal seperti itu? Yaa aku berpikir dan berbicara dalam hati mungkin dia iri kepadaku karena aku normal tidak seperti dia tidak normal.
Aku langsung berlari kepada mama dan bilang,
“Ma, Kejora menarik tasku sampai gantunganku lepas! Gantungan inikan baru dua hari yang lalu ayah belikan ketika pulang dari Malaysia. Masa udah rusak lagi!”
 Mamapun menjawab seraya tersenyum lembut kepadaku,
“Tidak apa-apa sayang. Nanti Mama bisa hubungi ayah lagi supaya memberikan lagi yang baru, jangan kamu salahkan adikmu seperti itu, mungkin dia ingin bermain bersama lagi denganmu. Mungkin dia rindu kakaknya seperti dulu yang slalu bersama-sama bersinar seperti bintang kejora dilangit.”
Aku mendecak sebal pada ucapan Mama.
“Aishhh! Mama, Bintang sama Kejora itu beda jadi jangan sandingkan nama bintang dengan kejora seperti itu. Banyak orang bilang Kejora itu tidak normal ma, Bintang gamau disandingkan!” akupun menjawab seperti itu sambil berteriak.
“SSSSTTTT….. Kamu kenapa bintang? Jangan berteriak seperti itu, Mama tidak suka. Kamu hanya saja belum mengenal dekat Kejora, Kejora anak yang berbakat, penyayang walaupun dia selalu membuatmu kesal bukan karena dia iri. Mama yakin suatu saat nanti kamu akan kagum dengan adikmu,” jawab Mama memperingatiku.
Dan ternyata percakapan aku dan Mama didengar oleh Kejora, memang Kejora anak tuna rungu, tidak bisa mendengar. Tetapi pembicaraan kita tadi dapat dilihat dan dimengerti oleh Kejora lewat gerak bibir kami. Kejora pandai mengikuti gerak bibir kami yang tengah bercakap.
Astagfirulloh.. aku kenapa? Kenapa hal kecil saja aku besar-besarkan dengan mengadu kepada Mama. Seharusnya aku bisa bersikap dewasa. Aku sedih, dan aku amat menyesal kepada Kejora, terutama kepada Mama, ketika tadi Mama mengatakan bahwa Kejora itu anak yg berbakat, penyayang walaupun dia selalu membuatku kesal”.
***
Hari minggu pagi, aku keluar dari kamarku aku melihat Kejora sedang menonton televisi, seperti biasa dia menonton kartun favoritnya spon kuning yang biasa Mama gunakan didapur untuk mencuci piring. Hmm.... ya “si kuning kotak Spongebob”. Aku heran kenapa dia suka sekali kartun itu.
“Eh, Bintang. Udah keluar? Ayo sarapan dulu bareng-bareng!” sahut Mama memanggil namaku dari pintu masuk ke arah dapur.
“Bintang, Kejora, ayo sarapan dulu. Sini mama masak nasi goreng kesukaan kalian nih!” sahut Mama kembali seraya menghampiri Kejora yang fokus menonton kartun.
“Ayo kejora saying”, Mama mengusap lembut ujung kepalanya. Kejora yang polospun tersenyum.
Di meja makan aku sibuk sekali melihat Kejora yang asyik dengan crayon dan cat air warna-warni. Aku berpikir dan berbicara dalam hati, mungkin dia ingin mengikuti sepertiku melukis bulan lalu aku kan pernah juara lomba melukis sekota madya.
Akupun bertanya dengan hati-hati kepada Kejora.
“Kejora, itu apa yang kejora pegang?”
Kejora hanya diam dan menunduk. Dan menggelengkan kepala. Kok kejora diam? Ibu menyahut duluan sebelum kejora melakukakan tindakan
“Cepat jawab apa itu?” tanyaku dengan nada yang semakin tinggi. Karena tidak biasanya Kejora pegang benda seperti itu, maka aku sedikit heran.
Langsung Kejora menuliskan kata-kata dengan pensil kesayangannya yang dibelikan oleh Ayah ketika pulang dari Malaysia. Dia menulis dibuku catatannya.
Seperti ini tulisannya yang kubaca.
“Kak Bintang, hari ini kejora ingin melukis. Kakak bisa ajarkan kejora melukis hari ini?” aku baca dengan perlahan, mengingat tulisannya hampir sulit kubaca. Mama juga membaca tulisan dari Kejora.
“Oh, tentu saja bias, Kejora! Kakak kan baik, pernah juara melukis lagi!” seru Mama menyanjungkanku sebagai kakaknya yang pintar kepada Kejora. Kejora tersenyum gembira. Sementara aku nampaknya kurang begitu antusias untuk mengajarkan Kejora. Entahlah. Perasaanku berkata aku benci dia ingin mengikuti jejakku yang memang pintar melukis! Aku tidak suka! Aku mengabaikan Kejora dan  memutuskan pergi ke kamarku setelah selesai makan.
***
Saat berada dikamar, aku duduk dan melihat fotoku dan Kejora sebelum aku masuk sekolah. Oh, ternyata yang kemarin-kemarin Mama bilang bahwa Kejora itu mempunyai bakat. Ternyata bakatnya itu melukis sepertiku. Hanya saja saat tadi Kejora membuat tulisan dibuku catatannya seperti itu ingin lebih dekat denganku.
Arrgghhh! Cukup! Jangan memikirkan hal yang tadi! Aku tidak ingin memikirkan bagaimana Kejora dan apa yang ingin Kejora lakukan! Aku tidak peduli!
Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamarku. Surat bertanda hati terselip pada celah bawah pintu kamarku. Surat itu berisi yang sanggup membuatku tertohok.
“Kalau kakak mau mengajarkanku melukis hari ini, kakak harus datang ke taman bermain diseberang rumah ya! Dari adikmu kejora yang menyebalkan dan sering membuat kakak kesal.”
Entahlah. Kenapa dia menulis pesan seperti itu. Tidak sadarkah dia kalau saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya? Ya Tuhan! Benar-benar membuatku kesal! Kenapa aku kesal sekali kepadanya? Aku tidak paham pada hatiku. Mungkin rasa iriku kepadanya sudahlah sangat besar.
Setelah aku baca aku tidak memperdulikan surat itu dan langsung pergi untuk tidur karena hari itu sangat mengantuk sekali karena sudah makan.
***
“Bintang. Bintang,” sayup-sayup terdengar suara Mama memanggilku sembari mengetuk pintu. Ya ampun, berapa lama aku tertidur? Cukup lama aku tertidur pulas. Kepalaku sedikit pening karena terlalu lama tidur. Aku langsung bangun dengan keadaan setengah sadar dan membukakan pintu untuk Mama.
“Kenapa, Ma?” tanyaku dengan suara yang cukup berat.
“Adikmu kemana? Sejak tadi Kejora belum pulang juga. Sekarang udah mau larut malam. Mama khawatir dengan kejora,” ujar Mama dengan raut wajah yang begitu khawatir.
 “Nggak tahu, Ma. Kejora belum pulang?” tanyaku kembali.
Setelah itu, aku teringat dengan surat Kejora yang ia selipkan pada celah pintu kamarku.
“Bentar, Ma. Aku akan pergi keluar mencarinya,” ujarku seraya pamit kepada Mama.
Sore itu hujan gerimis. Langit mendung. Aku berlari pelan menuju Taman untuk mencari Kejora yang kemungkinan masih berada di Taman. Dan ternyata benar. Kejora baru saja keluar dari area Taman dan matanya melihat kedatanganku. 
“Kejora!” teriakku cukup keras, berharap dia mendengarnya meskipun mustahil, mengingat dia seorang tuna rungu.
Kejora berlari dengan sebuah buku gambar pada tangannya. Dia menyeberang untuk menghampiriku. Akan tetapi....
Braak!!!!
DEG!!
Jantungku serasa terlepas dari tempatnya. Tubuhku seketika melemas. Kejadian barusan sangat jelas terlihat olehku.
“Ke....Kejora?”
Kejora tergelepak dengan kepala bersimbah darah setelah sebuah motor menabraknya dan mementalkan tubuhnya sejauh beberapa meter. Sang pengendara motor pun tak luput dari musibah. Namun yang kukhawairkan adalah Kejora. Langsung ku berlari menuju Kejora.
“Astaghfirulloh! Kejora! Kejora!! Tolong!” teriakku meminta pertolongan kepada pejalan kaki. Anehnya, bukannya membantu adikku, mereka sibuk sekali merekam kejadian kecelakaan ini! Dasar, manusia tak punya hati! Apakah dengan merekam adikku akan menyelamatkan adikku?!
Kulihat sebuah buku gambar pada tangannya yang tergenggam erat. Ku buka buku gambarnya. Terlihatlah sebuah gambar berwarna, menunjukkan keluarga utuh, yaitu Mama, Papa, aku dan juga Kejora. Kejora menggenggam tanganku pada gambarnya. Kemudian pada bawah gambarnya ia tuliskan sebuah pesan.
“Ini adalah keluarga bahagiaku. Kami akan bahagia selamanya. Aku mencintai Mama dan Papa. Dan aku juga mencintai Kak Bintang. Sayang sekali. Kak, maafkan Kejora, selalu bikin kakak kesal. Tapi walaupun kakak kesal sama Kejora, tapi Kejora masih tetep sayang sama kakak”, imbuhnya.
Kedua mataku menghangat. Air mataku perlahan mengalir deras. Aku menyesal. Aku amat menyesal kepada Kejora! Aku adalah kakak yang jahat! Ya ampun, apa yang aku lakukan kepadamu, Kejora? Aku terlalu kasar kepadamu!
***
Kejora dinyatakan mati otak karena kepalanya terbentur sangat kuat saat kecelakaan tadi. Itu berarti, tidak akan ada tanda bagi Kejora untuk sembuh. Kejora bernafas, tetapi tidak hidup. Sisa usianya sudah diperkirakan hanya tinggal satu minggu lagi. Ya ampun, Kejora. Maafkan kakak. Maafkan kesalahan kakak selama ini!
“Kejora, kamu mendengarkanku? Kakak menyesal telah menyakiti perasaanmu selama ini. Bangunlah, Kejora. Bangun!” aku menangis disamping tempat tidurnya. Mama dan Papa menangisi keadaan Kejora.
Andai waktu bisa diulang kembali. Tidak, andai saja aku bisa menangkal kejadian ini. Semua hal yang terjadi pada Kejora adalah salahku! Andai, keajaiban itu ada. Aku ingin Kejora kembali hidup.
Kumohon!! Keajaiban, datanglah kepada Kejora!!, aku berteriak bersungguh-sungguh dalam hati. Selalu kupanjatkan doa kepadanya. Aku berharap Kejora dapat hidup dan aku bisa memperbaiki kesalahanku kepadanya.
Kumohon! Kumohon!
Detektor jantung tiba-tiba berbunyi nyaring. Mama, Papa dan aku menatap layar detektor detak jantung. Kami saling berpandangan. Mama dan Papa berseru gembira.
“Alhamdulillah! Ya Allah, Alhamdulillah!” Papa dan Mama tak berhenti bersyukur. Aku hanya menangis terharu. Doaku terkabul. Keajaiban datang untuk Kejora. Dan aku berjanji, setelah kejadian ini, aku akan bersikap lebih baik kepada Kejora. Akan aku buktikan janjiku.
“Kejora, terima kasih udah maafin Kak Bintang,” gumamku dengan penuh rasa syukur.

Tamat



Friday, February 2, 2018

[Puisi] BICARA PELANGI






Oleh : Uswah Farha

Ditepi senja, aku berjalan setengah langkah kaki
Ketika itu hujan membasahi bumi
Tak ku sangka wangi hujan menghampiri
Benarkah itu sebuah pelangi?

Perkataan Ayah benar, pelangi akan muncul menggetarkan hati
Lantas, aku harus mendekat melangkahkan kedua kaki
Pikirku tidak kau perlu bersabar wahai hati
Ada DIA yang maha mengawasi, DIA lebih mencemburui

Biarlah pelangi itu aku sedikit inovasi
Kemudian, aku bawa pergi saja pada penjaga kuil cinta sejati
Tentulah disana pancaran warnanya akan aman dan terus mencahayai
Ketika itu senja berganti malam diiringi bisikan hati

Bulir-bulir embun pun rinai tertata rapih menghiasi
Sungguh hanya kesejukan kali ini aku dapati
Semeliwir polusi kota pun aku abaikan pergi
Karena, keyakinan diri, pikiran, dan hati telah berdiskusi

Bahwa..

Cinta datang untuk mencahayai bukan melukai
Cinta datang karena Illahi bukan hanya nafsu birahi
Cinta datang untuk melengkapi bukan malah kontroversi

Pelangi ataupun cinta, kedua kata itu indah berseri dan menarik hati
Rasanya aku saja yang ingin memiliki